Latest News

Mengangkat Kembali Kopi Toraja Sebagai Primadona

Mengangkat Kembali Kopi Toraja Sebagai Primadona
Produk kopi toraja dalam kemasan. 
RANTEPAO  - Tana Toraja bukan hanya terkenal dengan budaya pemakamannya, melainkan juga kopinya. Kopi arabika asal pegunungan sebelah utara Provinsi Sulawesi Selatan itu, bisa dinikmati di kafé-kafé di seantero dunia. Bagaimana jika para wisatawan mancanegara langsung datang ke Toraja untuk menikmati satu paket wisata nan lengkap: upacara pemakaman yang sarat dengan tradisi, menjelajah alam Toraja yang indah permai, plus menikmati suguhan kopi panas Toraja yang amat terkenal itu? Ini baru ide yang bagus! 

Topik inilah yang sedang hangat-hangatnya dibahas anggota Destination Management Organization (DMO) cluster Toraja, di Rantepao (ibu kota Kabupaten Toraja Utara), pertengahan pekan ini. DMO merupakan struktur tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup perencanaan, koordinasi, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif. Tak kurang dari belasan anggota DMO Cluster Toraja, terdiri dari pelaku industri wisata, pemerintah, dan unsur masyarakat, melakukan pertemuan untuk mencapai satu kata sepakat: menggenjot kunjungan wisatawan (mancanegara maupun nusantara) ke destinasi yang jadi primadona nasional sejak 1970-an ini.  

Adalah Luther Barrung, Ketua DMO Cluster Toraja, yang mengusulkan ide "menikmati kopi Toraja langsung di tempatnya" tersebut. Usulan Mantan Direktur Pemasaran pada Direktorat Jenderal Pemasaran dan Kerja Sama Luar Negeri Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (kini bernama Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kemenparekraf) itu, dilontarkan karena tingginya permintaan kopi Toraja untuk pasar dunia, sementara pasokannya tidak mencukupi. 

Yohan Tangke Salu, pelaku industri wisata, mengisahkan, beberapa tahun lalu ia bersama mendiang ayahnya pernah bertemu pengusaha dari sebuah perusahaan kopi besar di Australia. Permintaannya, impor 300 metrik ton per tiga bulan, atau 100 ton per bulan kopi Toraja. Pemilik "Toraja Misiliana Hotel" itu mengaku tak mampu memenuhi kebutuhan sebesar itu. 

"Itu kan ada musim-musimnya. Pertama, pas musimnya sudah habis (dipesan). Lalu apa lagi yang mau distok?" ujar pengusaha muda itu dikutip GATRAnews

Bahkan, "warung kopi" beken Starbucks dari Amerika Serikat pernah memesan kopi "edisi percobaan" (trial shipment) 20 ton -untuk memenuhi kebutuhan kopi 20 ton per bulan. Namun, katanya, setelah pemesanan pertama itu, bisnis tak berlanjut. Alasannya, kopi yang dipesan dengan yang dikirim tidak sama. Hingga kini, kopi Toraja tak ada dalam daftar menu Starbucks. Namun ada gerai kopi lainnya yang menyediakan kopi Toraja, seperti Jasper Coffee dan Excelso.  

Mengangkat Kembali Kopi Toraja Sebagai Primadona
Tator Coffee Boutique, salah satu cafe dengan design khas Toraja yang menyajikan produk kopi Toraja. Foto: OpenRice

Harga jual tinggi 

Kopi Toraja bukanlah kopi sembarangan. Karena rasanya yang nikmat, permintaan akan si hitam ini pun terus meningkat. Padahal, kopi Toraja sejati, ya cuma ada di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. 

Menurut Luther Barrung, kopi Toraja hanya tumbuh di ketinggian 1200 hingga 1800 meter di atas permukaan laut. Dan percaya atau tidak, untuk mendapatkan kopi seenak kopi Toraja, kopinya harus ditanam di Toraja, di kebun yang berketinggian seperti disebutkan di atas. 

"Di tempat lain, tidak sama. Rupanya tanah di sini mempunyai ciri khas tersendiri. Tumbuhnya pun sudah sangat terbatas," kata Luther dikutip GATRAnews

Terbatasnya produksi kopi Toraja, sementara permintaan tinggi, membuat harga jualnya terkatrol naik. Keterbatasan itu pula, membuat para pedagang nakal ada yang memasukkan kopi dari daerah tetangga, Bantaeng, dan diklaim sebagai kopi toraja. 

"Kopi Bantaeng seharga Rp 20 ribu (per kilogram) dibilang kopi Toraja -yang harganya mencapai Rp 100 ribu," ujar Luther. Dan saat ini, di pasaraan kopi Toraja harganya sudah mencapai Rp 140.000 per kilogram. 

Begitulah kopi Toraja, yang lahan perkebunannya sudah ada sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Para putra Toraja meyakini  kopi Toraja akan bangkit kembali di dunia internasional, asal saja prasarana daerah itu dibenahi. Keberadaan bandara yang representatif dan mampu didarati pesawat jet berbadan lebar, semisal Boeing, sangat mereka tunggu-tunggu. 

"Bayangkan saja, pada 1974 Toraja pernah jadi tuan rumah workshop PATA Conference.  Peserta naik bus dari Makassar, dan sukses! Kalau bandara ini jadi, go!" seru Luther. Lelaki berusia lanjut yang semangatnya masih menggebu itu membayangkan bandara baru yang berlokasi di Buntu Kunyi, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, segera terwujud dalam waktu dekat ini. 

"Akan banyak sekali (wisatawan) yang datang," harapnya.  Semoga.


Sumber: GATRAnews

Toraja Paradise Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Google. Powered by Blogger.