Latest News

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Seorang pengrajin meyelesaikan tenunannya, tenun ikat khas Toraja. Foto: Google|Bangun Media

Hitam-Putih Tenun Toraja [1]

Tenun Toraja kini terancam punah karena tidak terjadi regenerasi penenun. Di Kampung Sa’dan, yang menjadi sentra tenun, kini tinggal 70 perajin saja yang berproduksi.

Aneka tenun tradisional Indonesia seolah tidak akan habis ditelusur. Selain dikenakan sebagai busana sehari-hari, di beberapa etnis, tenun juga menjadi busana utama saat berlangsung upacara adat ataupun hari besar keagamaan. Itulah sebabnya banyak ragam tenun di penjuru Nusantara ini. Pada suatu masa, corak kain tenun yang menjadi primadona dapat digunakan sebagai alat tukar jual-beli. Namun, kain-kain buatan masa lampau tersebut tidak bisa lagi kita nikmati saat ini, selain tidak lagi diproduksi, daya tahan seratnya luruh karena suhu dan kelembaban iklim tropis.

Begitu pun tenun asal Toraja. Sudah banyak ragam dan motifnya yang tidak diketahui lagi oleh para penerus zaman. Padahal, tenun Toraja memiliki sejarah ragam tekstil sebagai salah satu perlengkapan upacara adat kematian Toraja.

Ribuan tahun yang lalu, tenun Toraja dibuat dari serat kulit kayu. Kemudian material tersebut berubah lebih maju menjadi serat nanas. Konon, kain tersebut lebih sering digunakan untuk membungkus mayat karena daya serapnya tinggi. Setelah pedagang India dan Gujarat mendarat di Palopo—pantai barat Toraja sekitar 60 kilometer dari Rantepao— dikenallah campuran kapas. Kemudian kain tenun dibuat dari serat nanas yang ditambahkan serat kapas tanpa dipintal sehingga bahannya sedikit lembut. Kain tenun tersebut sudah berfungsi sebagai penutup badan.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Seorang Nenek sedang memintal benang sebagai bahan baku kain tenun khas Toraja.
Foto: Warisan Indonesia|Hardy Mendrofa

Awal mulanya produksi kain tenun Toraja memang sulit diketahui secara pasti, kapan kegiatan menenun itu dilakukan dengan alat apa mereka menenun dan bagaimana warna serta ragam corak yang dihasilkan. Konon, menenun dimulai setelah masyarakat Toraja membangun rumah tinggal yang representatif dan dapat menjadi tempat kegiatan (Said, 2004: 152). Dalam menciptakan corak dan motif untuk menghias tenun, beberapa tokoh Toraja berkeyakinan bahwa ragam tersebut diperoleh dari meniru motif ukiran yang terdapat di tongkonan—rumah adat. Namun, jika melihat perkembangan zaman dan peradaban, motif garislah yang lebih dulu ada dibandingkan tongkonan. 

Tenun Toraja yang Melegenda [2]

Sehari-hari, banyak orang yang memakai tenun Toraja sebagai pakaian, tas, dompet, selendang, maupun perlengkapan lainnya. Yang pasti, dalam setiap upacara adat Toraja, kain tenun Toraja wajib dikenakan.

Desa Sa’dan Malimbong adalah salah satu desa di Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang terkenal dengan tradisi tenunnya. Di sini, pembuatan tenun Toraja masih menjadi kegiatan turun temurun. Anak-anak pun sudah mulai belajar menenun. Awalnya, mereka belajar menenun dengan motif-motif sederhana, seperti garis warna-warni. Setelah lebih mahir, barulah bentuk-bentuk lain diperkenalkan, seperti tedong (kerbau) dan tongkonan (rumah adat Toraja).

Di Desa Sa’dan Malimbong, proses penenunan masih menggunakan alat tenun tradisional. Tak heran, para penenun membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan sehelai kain tenun. Semakin rumit motifnya, semakin lama waktu pengerjaannya. Tentu saja, semakin mahal harganya. Bahan dan pewarna kain tenun ini pun menggunakan bahan alam. Biasanya, serat kain ada dua macam, yaitu serat kapas dan serat daun nanas. Namun, sekarang serat daun nanas mulai sulit didapat.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Salah satu motif tenun khas Toraja. Foto: Kidnesia

Untuk pewarna alami, para penenun menggunakan kulit, pelepah, biji, dan daun dari tumbuhan tertentu. Kain dengan pewarna alami tentu bernilai lebih tinggi. Harganya mencapai jutaan rupiah. Namun, kini, para penenun juga memakai pewarna buatan. Memang tak sebagus pewarna alam, namun harganya lebih murah. Ada banyak warna dalam tenun Toraja. Yang paling sering digunakan, terutama dalam upacara adat, adalah merah dan hitam.

Dulu, kain tenun Toraja menjadi lambang kemakmuran dan status sosial pemiliknya. Ada kain yang hanya boleh dipakai para bangsawan, ada yang untuk rakyat jelata. Kain-kain tertentu juga hanya digunakan untuk upacara adat tertentu. Misalnya, kain sarung hitam yang khusus digunakan untuk upacara kematian atau Rambu Solo’.  

Kini, siapa pun boleh memakai berbagai jenis kain Toraja. Meskipun masih tetap ada aturan tak tertulis tentang kain-kain yang bisa dipakai untuk upacara adat tertentu. Kalau kamu ingin berburu kain tenun Toraja, Sa’dan Malimbong bisa jadi pilihan tempat jalan-jalanmu.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Pengrajin menenun kain di tokonya dengan latar belakang Tongkonan (rumah adat Toraja) di Desa Barana, Kecamatan Saddan, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (24/8). Foto: LTWI

Tenun, Yang Makin Populer dan Makin Punah [3]

Tenun pernah dianggap buah tangan terindah bagi pelancong yang datang ke sebuah daerah di Indonesia. Bagi beberapa suku, kain tenun bahkan dipandang begitu berharga hingga hanya bangsawan yang boleh memakainya.

Kain tenun sekarang mulai menggeser popularitas batik. Pada pria muda berkemeja tenun lengan pendek sekarang jamak dilihat di kawasan perkantoran. Sementara mengenakan atasan atau jaket tenun pun dianggap modis oleh kaum Hawa.

Kepopuleran tenun namun belum dibarengi perbaikan nasib penenun. Beberapa tenun bahkan terancam punah, seiring makin sedikitnya orang yang bisa menenun motif tertentu.

Sjamsidar Isa dari Cita Tenun Indonesia mengatakan beberapa tenun sudah sulit dicari. Contohnya, tenun dari Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat. Banyak penenun Sambas yang justru angkat kaki ke Brunei Darussalam serta Malaysia untuk bekerja sebagai TKW. Pilihan itu terpaksa diambil meski upahnya sangat rendah, karena karya tenun mereka lebih tidak menghasilkan uang lagi.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Pengrajin menenun kain di Desa Barana, Kecamatan Saddan, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (24/8). Foto: LTWI

"Motif-motif tua akhirnya mulai punah," sambung Dinny Jusuf, pengusaha UKM yang membuat kerajinan dari tenun toraja bermerek Toraja Melo.

Kata Dinny, ada beberapa motif yang sekarang hanya bisa ditenun oleh beberapa perajin. Umumnya mereka sudah lansia dan tidak tertarik membagi ilmu menenunnya ke kalangan muda.

Sementara kaum muda Toraja memilih bekerja sebagai TKW ke Malaysia daripada menjadi perajin tenun. "Menenun di Toraja juga merupakan pekerjaan sambilan," sambung Dinny, menceritakan kendala mengembangkan tenun toraja.

Para nenek mencicil tenunan sambil mengurus cucu yang ditinggal ibunya bekerja ke Malaysia. Listrik yang belum sepenuhnya masuk ke pelosok Toraja membuat penenun juga memilih menenun warna-warna terang karena bisa dikerjakan di dalam rumah.

Kain tenun berwarna gelap lalu harus dikerjakan di teras rumah dengan bantuan cahaya matahari. Dinny mengatakan, tenun Toraja sulit untuk maju bila proses pekerjaannya masih sangat sederhana.

Irna Mutiara, perancang busana Muslim yang pernah bekerja dengan bahan tenun asal NTB mengatakan belum semua tenun sudah terekspos. "Sulaman NTB juga makin ke sini makin hilang," ujarnya. Ketertarikan Irna pada sulaman dari Lombok dan Sumbawa membawanya merancang busana Muslim dengan aksen sulam.

Kain tenun yang diolahnya diambil dari Dusun Pringgasela, Dusun Gumise, Dusun Bun Mudrak, Dusun Sukarara, dan Kota Mataram. Irma mengambil tenun dalam warna lembut dan motif tradisional geometrik, kotak-kotak, dan garis-garis.

Namun, kendala dihadapi Irna ketika bekerja dengan tenun tersebut. "Benangnya terlalu tebal," ujarnya. Padahal, Irna ingin menggarap busana siap pakai yang ringan. Untuk menyiasatinya, Irna membawa sendiri benang dan diberinya ke perajin demi mendapat tekstur kain yang lebih halus.

Perancang busana Sonny Muchlison menilai, seorang desainer harus mengerti cara melestarikan budaya. Menurutnya, perancang busana memegang peranan penting dalam mengenalkan budaya bangsa. Lihat saja batik. Berkat tangan ulet para desainer, batik membawa nama Indonesia ke luar negeri.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Seorang pengrajin kain tenun Toraja menunggu pembeli di tokonya di Desa Barana, Kecamatan Saddan, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (24/8). Foto: LTWI


Semoga saja tangan ulet para desainer Indonesia mampu mengangkat pamor tenun. Sekaligus melestarikannya.

Baca juga artikel sebelumnya tentang tenun Toraja:







Sumber:

Toraja Paradise Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Google. Powered by Blogger.