Latest News

Visit Toraja: Ayo Ikut Online Voting Logo Toraja

Visit Toraja: Ayo Ikut Online Voting Logo Toraja
Ayo ikut Voting Online logo Toraja... :)
"Vote for Toraja Branding, Toraja Tourism Destination." Gambar: |@TorajaParadise

Branding Toraja, destinasi di Sulawesi Selatan, akan melibatkan masyarakat luas melalui pemilihan logo dan tagline baik secara offline maupun online. Baik orang Toraja, pemerhati pariwisata dan pelancong dalam serta luar negeri, dihimbau untuk berpartisipasi dalam online voting yang diselenggarakan pada 16-24 April 2015.

Promosi mengenai online voting dilakukan melalui tiga akun sosial media Toraja, yaitu: Facebook Fan Page Visit Toraja, Twitter @VisitToraja dan Instagram @visittoraja.

Toraja merupakan salah satu destinasi pilihan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang didukung oleh Swisscontact, selain Tanjung Puting, Wakatobi dan Flores. Keempat destinasi ini merupakan bagian dari rencana Kemenpar untuk mendukung pariwisata di 15 destinasi prioritas di Indonesia melalui pengembangan organisasi tata kelola destinasi atau Destination Management Organization (DMO).

Salah satu fokus utama DMO adalah meningkatkan kesadaran mengenai destinasi melalui pemasaran. Dengan mengembangkan citra yang unik, hal ini tidak hanya dapat membantu menyatukan para pemangku kepentingan, tetapi juga mencitrakan destinasi agar dapat dikenali di pasar pariwisata. Melalui pengelolaan yang tepat dari destinasi, industri pariwisata diyakini dapat mendorong perekonomian dan lingkungan seiring dengan memfasilitasi kemajuan sosial lebih lanjut.

Pengembangan itu diwujudkan oleh Kemenpar, bekerja sama dengan Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) dan Swisscontact, yaitu organisasi pengembangan dari Swiss dengan lebih dari 40 tahun pengalaman di Indonesia.

Toraja sendiri dikenal sebagai salah satu tempat terindah di Indonesia yang menyimpan daya magis dalam kulturnya. Pesonanya terkuak ketika tengkorak-tengkorak manusia menunjukan kemisteriusannya, juga puluhan kerbau dan babi yang pasrah disembelih untuk upacara kematian demi sebuah ritus ‘Orang Mati yang Hidup’ .

Di sinilah Anda dapat melihat situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir di Rante Karassik, dan perkampungan Kete Kesu unik. Semuanya terpeliharanya dalam bingkai adat budaya karena masyarakatnya sangat menghormati leluhur dengan tetap menjaga eksistensi pekuburannya.

Visit Toraja: Ayo Ikut Online Voting Logo Toraja
Banner voting logo Toraja melalui Visit Toraja. Gambar: IndTravel

Mengapa Mencitrakan Toraja

Saat ini, industri pariwisata telah bergeser. Pengunjung memiliki daya pilih untuk menentukan tujuan wisata yang cocok dengan persepsi dan keinginan mereka. Oleh karenanya, sebuah tujuan wisata tidak bisa bergantung hanya pada penjualan produk mereka saja seperti objek wisata, budaya, produk lokal, dan sebagainya, tetapi harus juga mampu menawarkan berbagai fitur menarik pariwisata secara efektif yang terpadu ke dalam sebuah strategi pemasaran untuk meningkatkan lebih banyak pengunjung.

Toraja telah dipromosikan secara provokatif sebagai sebuah tujuan wisata yang mungkin paling membuat penasaran, yang dianggap lebih terpencil, alternatif wisata yang masih lestari selain Bali, dan lebih mendasar lagi, sebagai sebuah alternatif untuk para pengunjung yang notabene bersudut pandang duniawi, seperti dunia Barat yang cukup sekuler.

Disaksikan sebagai potensi baru tempat wisata, Kementerian Pariwisata Indonesia menyatakan Tana Toraja sebagai tujuan pariwisata utama baru setelah Bali. Terdapat pembangunan besar-besaran hotel, restoran, infrastruktur (jalan) dan bandara baru (dibuka tahun 1981) untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah pengunjung.

Dengan semua potensi dan sumber daya yang ada industri pariwisata dan pemangku kepentingan pariwisata telah membentuk Tana Toraja, sebagai presentasi dari budaya eksotis dan tujuan wisata yang jauh dari mana-mana: tujuan wisata yang menawarkan upacara pemakaman pagan dan desa-desa sejak zaman batu, dilengkapi dengan pemandangan sawah dan pegunungan. Para pengunjung telah diberi kesempatan untuk berada secara dekat dengan beberapa versi dari: yang Lain, yang Eksotis, dan yang Primitif. Wisatawan dari sebagian besar negara lain cenderung menganggap Toraja sebagai tempat ritual, khususnya sebagai tempat pemakaman. Pada bagian ini secara kebetulan, untuk ritual tradisional kematian Toraja terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus, setelah panen, cocok sekali sesuai dengan kalender liburan orang Barat; dan untuk berbagai macam alasan sejarah dan budaya, Toraja sangat menekankan upacara kematian.

Seiring dengan berjalannya waktu, Tana Toraja telah mengalami banyak pasang surut dalam industri pariwisata. Beberapa insiden penting telah membentuk industri pariwisata di Toraja saat ini: bom Bali (2002 dan 2005), dan permusuhan etnis serta agama di Luwuk yang juga dianggap sebagai salah satu klan Toraja. Jumlah pengunjung menurun dan butuh beberapa saat (hampir 10 tahun) untuk pulih meskipun tidak sebagus masa-masa kejayaan di tahun 80 dan 90-an. Runtuhnya industri pariwisata telah mengakibatkan masyarakat mencari altenatif untuk mata pencaharian seperti bekerja sebagai pendatang di kota-kota besar, di mana Jakarta, Balikpapan atau Jayapura terpilih menjadi tempat untuk menetap.

Pembangunan ekonomi dan pariwisata yang tidak berkelanjutan telah mengubah masyarakat Toraja menjadi yang sekarang. Sebagai kawasan wisata berbasis budaya, tradisi dan ritual secara perlahan berubah dan mengalami banyak gangguan yang membuatnya kurang, dari segi orisinalitas.

Terlepas dari tantangan dalam pariwisata Toraja seperti susahnya aksesibilitas, biaya liburan yang kurang menarik, atau identitas yang disalahartikan, Toraja masih memiliki banyak peluang untuk menjejakkan kaki di peta kepariwisataaan Indonesia serta dunia. Tempat wisata yang begitu agung, atraksi yang unik dan sisa-sisa kejayaan masa lalu Toraja adalah aset berharga bagi pariwisata. Pasar lokal yang besar yang belum tersentuh dan meningkatnya jumlah wisatawan global akan menjadi gerbang pembuka bagi Toraja untuk kembali ke pasar pariwisata global.

Toraja selalu diartikan sebagai dua kabupaten berbeda, yaitu Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara yang mana pembagian seperti itu malah menciptakan persepsi bahwa itu adalah dua tujuan wisata yang terpisah. Sedangkan, sebenarnya mereka memiliki ciri-ciri budaya dan etnis yang sama, pemisahan semacam itu justru dapat merugikan posisi tawar di industri pariwisata. Dengan demikian, pencitraan Toraja sebagai satu daerah pariwisata akan meningkatkan daya saing Toraja di pasaran.

Akhirnya, identitas kompetitif Toraja membuatnya khas dan membedakannya dari tujuan wisata lainnya. Melalui pencitraan, diharapkan persepsi pengunjung tentang Toraja akan meningkatkan lebih baik dan pada akhirnya akan selalu hidup di mata pemangku kepentingan internal dan pengunjung potensial serta pelanggan.

Di mana kita sekarang

Toraja DMO dengan dukungan dari Swisscontact WISATA telah memulai proses pencitraan Toraja dan melakukan penilaian yang diperlukan secara mendesak sejak semester ke-2 tahun 2014. Penilaian yang dilakukan pada tahun yang sama membawa kepada pembentukan kelompok kerja lokal (Pokja) yang bertugas mengawal proses pencitraan secara keseluruhan. Anggota-angota dari Pokja mencerminkan perwakilan dari pemerintah daerah kabupaten, pelaku industri pariwisata, akademisi, budayawan, tokoh tetua adat, organisasi pemuda, kelompok agama, sekolah dan masih banyak lainnya dari Toraja.

Di bulan-bulan terakhir 2014, Pokja memulai sebuah inisiatif dengan membentuk visi dan misi dan arah tentang bagaimana dan ke mana destinasi ini akan berlayar. Pencarian sebuah perusahaan profesional yang akan membantu mendukung proses pencitraan dilakukan, kemudian disusul dengan terpilihnya agen pencitraan berbasis di Jakarta tersebut pada November 2014.

Pada Januari 2015, Toraja DMO mengkoordinasikan kunjungan lapangan yang berisi beberapa acara pertemuan diskusi intensif dan penilaian antara agen pencitraan terpilih dan perwakilan pemain industri pariwisata, pakar dan akademisi, tokoh tetua adat, organisasi pemuda dan keagamaan. Data yang diambil dari kunjungan itu kemudian digunakan untuk mengembangkan sebuah rekomendasi yang mengusulkan posisi dan konsep pencitraan serta perencanaan kampanye strategis untuk destinasi.

Rancangan tampilan berupa gambar grafis untuk pencitraan, telah ditindaklanjuti di bulan Februari dan Maret diikuti dengan berbagai diskusi internal di antara anggota Pokja tentang gambar grafis yang diusulkan. Tiga Logo dan satu slogan sekarang siap untuk diseleksi oleh masyarakat Toraja yang akan menentukan satu logo dan satu slogan yang dianggap paling tepat mewakili Toraja.

Masyarakat Toraja dan mereka yang memiliki minat tentang Toraja dipersilakan untuk secara aktif mendukung pemilihan melalui kegiatan sosialisasi dan voting online yang dijadwalkan pada minggu ketiga bulan April 2015 dengan pengumuman hasil akhir yang dijadwalkan pada akhir bulan April 2015.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Toraja DMO
Jl. Veteran No. 1 Makale, Tana Toraja
Sulawesi Selatan 91811
Telepon: +62 (423) 26462

Untuk melakukan voting secara Online silahkan kunjungi situs Visit Toraja (klik disini)

Berikut adalah logo yang terlampir dalam situs Visit Toraja:

Semua logo yang diusulkan menggunakan slogan yang sama: Discover the Sacred Highland, Temukan tanah tinggi yang suci. Kata-kata tersebut dipilih untuk memberi rasa dan kesan unik:
  • Discover/Temukan – Kata aktif, menyiratkan bahwa di wisata Toraja mengajak keterlibatan dari pengunjung untuk mendapatkan pengalaman yang istimewa.
  • Highland/Tanah Tinggi – Menunjukkan identitas Toraja sebagai tanah tinggi.
  • Sacred/Suci – Tempat yang sakral, merujuk pada kebudayaan Toraja yang agung dengan bangsawan/leluhur yang turun langsung dari langit.


Visit Toraja: Ayo Ikut Online Voting Logo Toraja

Visit Toraja: Ayo Ikut Online Voting Logo Toraja

Visit Toraja: Ayo Ikut Online Voting Logo Toraja



Toraja Paradise Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Google. Powered by Blogger.